Saturday, November 9, 2013

Analisis Artikel - Efek Samping Suntik Vitamin C


 
Memiliki sebuah kulit yang cantik dan menarik tentu menjadi idaman para kaum wanita. Dengan memiliki penampilan yang menarik, para kaum wanita ini akan senang dan tentu saja memiliki kebanggaan serta kepuasan tersendiri untuk mereka. Banyak cara mereka lakukan agar mereka bisa tampil cantik serta menarik. Mulai dari cara natural, hingga cara instan akan mereka tempuh agar bisa mendapatkan penampilan yang mereka idam-idamkan.
Cara natural agar memiliki penampilan bagus adalah dengan berolahraga dan rajin mengkonsumsi buah maupun sayuran. Tapi, cara natural ini sungguh memakan waktu yang lama. Alhasil. Para kaum hawa yang tidak sabar untuk mendapatkan penampilan menarik dengan cara suntik maupun operasi. Salah satu yang sedang ngetrend dikalangan artis dan tempat perawatan kecantikan adalah Suntik vitamin C. Padahal, cara instan ini memiliki efek samping yang bisa membahayaan tubuh sang pengguna. Apalagi dengan pemakaian yang sembrono tidak sesuai anjuran dokter. Lalu apa sajakah efek samping suntik vitamin C? Berikut akan kami paparkan efek sampingnya
Suntik vitamin C pada dasarnya adalah suntikan untuk mendongkrak imunitas tubuh. Sedangkan untuk kulit, vitamin C ini berguna agar peredaran darah didalam tubuh kita akan lancar sehingga kulit akan terlihat cerah. Selain cerah, kulit pun akan terjaga kelembapannya dengan begitu kulit pun akan terhindar dari kekeringan. Dengan segudang manfaat suntik vitamin C, tentunya banyak orang yang akan tergiur dan ingin melakukannya. Eits, tapi dibalik khasiat segudang ini efek sampingnya juga lumyan menakutkan lo.
Penggunaan Suntik vitamin C ini bisa mengakibatkan Efek samping yang berupa iritasi pad kulit, perih hebat, sampai reaksi alergi yang bisa menimbulkan kematian. Selain itu penggunaan dalam jangka panjang dan dosis besar bisa mengakibatkan batu ginjal dan kerusakan ginjal.
Untuk para pengidap maag, penggunaan suntik vitamin ini tentu akan memperparah maag yang ia punya, karena sifat asam dari vitamin C yang akan memperparah maag yang diderita penggunanya.
Untuk  itu, anda yang ingin menggunakan suntik vitamin ini, diwajibkan terlebih dahulu untuk memeriksakan diri ke dokter ahli kecantikan / dermatologi untuk memastikan dosis dan penggunaannya sesuai aturan BPOM kosmetik. Agar penyakit seperti maag atau ginjal yang tidak berfungsi dengan baik bisa terdeteksi dan nantinya tidak memperparah atau bisa saja membahayakan nyawa anda.

 Sumber Artikel resmi dari : http://www.kosmetikberbahaya.com/efek-samping-suntik-vitamin-c.html - June 26, 2013. Diakes tanggal 10 November 2013
 
Artikel diatas memaparkan tentang trend masyarakat masa kini, yang rela merogoh kocek untuk mendapatkan kulit yang halus, cerah, dan awet muda dengan cara instan yakni dengan suntik vitamin C. Seperti yang dipaparkan dalam artikel diatas memang banyak manfaat yang bisa didapat dari suntik vitamin ini, sehingga membuat banyak wanita khususnya tergiur untuk mencoba suntik vitamin c untuk kembali terlihat segar dan muda. Cara kerjanya yang terhitung relatif cepat, tentu semakin membuat para wanita tergerak untuk mencoba metode ini.
Dan hukum ekonomi sederhana pun terjadi, yakni semakin banyak permintaan akan memacu naiknya penawaran akan barang/jasa tersebut. Dalam hal ini para pengusaha yang bergerak di bidang kecantikan baik berupa klinik kecantikan maupun salon, berlomba-lomba menyediakan layanan suntik vitamin C ini. Klinik kecantikan yang memang memiliki lisensi yang jelas atas prakteknya tentu akan memberikan layanan suntik vitamin C yang aman disesuaikan dengan kondisi penerima/pasien. Namun karena begitu banyak permintaan akan suntik vitamin C ini, bermuncullah salon-salon atau bahkan tempat-tempat tidak jelas menawarkan jasa ini dengan harga dapat dikatakan relatif lebih murah dibanding ke di klinik kecantikan resmi atau rumah sakit. Tempat-tempat seperti inilah yang membahayakan. Karena tidak terdapat jaminan bahwa mereka mengetahui dosis yang tepat. Bahkan kita tidak pernah tahu apakah alat suntiknya baru dan aman, dan apakah vitamin C tersebut murni atau mungkin telah dicampur oleh bahan lain agar dapat menekan biaya yang menguntungkan bagi penyedia jasa ini. Tentu tidak, bagi konsumen seperti yang dijelaskan dalam artikel diatas. Untuk itu sebaiknya, masyarakat seyogyanya mendatangi klinik kecantikan resmi dengan bantuan dokter yang terpercaya jika ingin mencoba metode perawatan suntik vitamin C ini.









Pembelian


“PEMBELIAN” Istilah purchasing atau pembelian sinonim dengan procurement atau pengadaan barang. Berikut adalah definisi procurement menurut Bodnar dan Hopwood (2001:323), yaitu:“Procurement is the business process of selecting a source, ordering, and acquiring goods or services.”Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti: bahwa pengadaan barang adalah proses bisnis dalam memilih sumber daya-sumber daya, pemesanan dan perolehan barang atau jasa.

Berikut adalah pendapat Galloway dkk. (2000:31) mengenai fungsi pembelian, yaitu: “The role of purchasing function is to make materials and parts of the right quality, and quantity available for use by operations at the right time and at the right place.” Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa peran fungsi pembelian adalah untuk mengadakan material dan part pada kualitas yang tepat dan kuantitas yang tersedia untuk digunakan dalam operasi pada waktu yang tepat dan tempat yang tepat.

Pentingnya fungsi pembelian :
Management audit bisa digunakan untuk mengevaluasi organisasi secara keseluruhan ataupun fungsi tertentu dalam organisasi, untuk menentukan apakah perusahaan sudah memperoleh efisiensi biaya yang maksimum dari yang telah dilaksanakan oleh fungsi tersebut selama ini. Penelitian ini menjadikan fungsi pembelian sebagai sasaran audit. 
Fungsi pembelian sering dianggap sebagai bagian yang paling penting dan berpengaruh, bahkan bisa dikatakan sebagian besar proses bisnis berasal dari kegiatan pembelian. Alasan yang sangat fundamental untuk membahas fungsi pembelian ialah karena dalam bidang ini pemborosan mudah terjadi, baik karena perilaku yang disfungsional maupun karena kurangnya pengetahuan dalam berbagai aspek pembelian bahan, sarana, prasarana dan suku cadang yang diperlukan perusahaan.
Pandangan ini menurut Siagian (2001:192) mudah dipahami karena dalam proses produksi perusahaan memerlukan bahan baku. Tidak banyak perusahaan yang menguasai sendiri bahan baku yang diperlukan untuk diolah lebih lanjut menjadi produk jadi, sehingga bisa disimpulkan bahwa tidak ada satupun bentuk atau jenis perusahaan yang tidak terlibat dengan fungsi pembelian. Pengalaman banyak perusahaan bahwa biaya untuk menghasilkan suatu produk mungkin mencapai sekitar lima puluh persen dari harga jual produk, menjadikan fungsi pembelian sebagai sumber pemborosan apabila tidak diselenggarakan dengan baik dan sumber penghematan yang akan memperbesar laba perusahaan apabila dilakukan dengan teliti dan cermat.

Tugas dan tanggung jawab fungsi pembelian :
Pada dasarnya peran fungsi pembelian adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh perusahaan pada waktu, harga dan kualitas yang tepat. Assauri (1998:162) menjabarkan tanggung jawab bagian pembelian sebagai berikut:
1. Bertanggung jawab atas pelaksanaan pembelian bahan-bahan agar rencana operasi dapat dipenuhi dan pembelian bahan-bahan tersebut pada tingkat harga dimana perusahaan akan mampu bersaing dalam memasarkan produknya.
2. Bertanggung jawab atas usaha-usaha untuk dapat mengikuti perkembangan bahan-bahan baru yang dapat meguntungkan dalam proses produksi, perkembangan dalam desain, harga dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi produk perusahaan, harga serta desainnya.
3. Bertanggung jawab untuk menurunkan investasi atau meningkatkan perputaran bahan, yaitu dengan penentuan skedul arus bahan ke dalam pabrik dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi.
4. Bertanggung jawab atas kegiatan penelitian dengan menyelidiki data-data dan perkembangan pasar, perbedaaan sumber-sumber penawaran (supply) dan memeriksa pabrik suplier untuk mengetahui kapasitas dan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan perusahaan.
5. Bertanggung jawab atas pemeliharaan bahan-bahan yang dibeli setelah diterima dan bertanggung jawab atas pengawasan persediaan.

Tugas-tugas yang dilakukan bagian pembelian dalam memenuhi tanggung jawab tersebut diatas antara lain :
  1.  Melakukan pembelian bahan-bahan secara bersaing atas dasar nilai yang ditentukan tidak hanya pada harga yang tepat tetapi juga pada waktu yang tepat, serta jumlah dan mutu yang tepat pula.
  2. Membantu pemilihan bahan-bahan dengan melakukan penyelidikan.
  3. Melaksanakan usaha-usaha pencarian paling sedikit dua sumber suplai.
  4. Mempengaruhi tingkat persediaan terendah.
  5. Menjaga hubungan baik dengan suplier.
  6. Melakukan kerjasama dan koordinasi yang efektif dengan fungsi-fungsi lainnya dalam perusahaan.
  7.  Meneliti keadaan perdagangan pasar.
  8. Membeli seluruh bahan-bahan dan perlengkapan yang dibutuhkan tepat waktu sehingga tidak menganggu rencana produksi dari perusahaan tersebut.
Galloway dkk. (2000:305) mendefinisikan tujuan dan tanggung jawab departemen pembelian adalah meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Memilih, mengevaluasi dan mengembangkan sumber-sumber untuk bahan dan jasa yang dibutuhkan oleh perusahaan.
2. Memelihara dan membangun relasi dengan suplier yang berkenaan dengan kualitas, pengiriman, pembayaran dan pengembalian.
3. Mencari bahan dan produk baru, serta sumber-sumber baru untuk memperoleh bahan dan produk yang lebih baik yang mungkin bisa digunakan oleh perusahaan di masa yang akan datang.
4. Melakukan negosiasi dan memperoleh bahan baku, peralatan, barang dan jasa pada harga yang mencerminkan the best value for money.
5. Ikut berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas untuk reduksi biaya.
6. Memelihara sistem komunikasi yang efektif dan melakukan konsultasi secara rutin dengan fungsi-fungsi internal.
7. Selalu memberikan informasi mengenai biaya pembelian dan berbagai perubahan yang mungkin bisa mempengaruhi laba perusahaan dan perkembangan dimasa mendatang kepada manajemen puncak.


Friday, November 8, 2013

Evaluasi Alternatif Sebelum Pembelian

 
A. Setelah konsumen menerima pengaruh dalam kehidupannya maka mereka sampai pada keputusan membeli atau menolak produk. Pemasar dianggap berhasil kalau pengaruh-pengaruh yang diberikannya menghasilkan pembelian dan atau dikonsumsi oleh konsumen. Keputusan konsumen, tingkatan-tingkatan dalam pengambilan keputusan, serta pengambilan keputusan dari sudut pandang yang berbeda bukan hanya untuk menyangkut keputusan untuk membeli, melainkan untuk disimpan dan dimiliki oleh konsumen.
B. Konsep Keputusan
Keputusan adalah suatu pemilihan tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Bila seseorang dihadapkan pada dua pilihan, yaitu membeli dan tidak membeli tapi memilih membeli, maka dia ada dalam posisi membuat keputusan. Semua orang mengambil keputusan setiap hari dalam hidupnya tanpa disadari. Dalam proses pengambilan keputusan, konsumen harus melakukan pemecahan masalah dalam kebutuhan yang dirasakan dan keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dengan konsumsi produk atau jasa yang sesuai. Tiga tingkatan dalam pemecahan ini;
Pemecahan masalah yang mensyaratkan respons yang rutin. Keputusan yang diambil tidak disertai dengan usaha yang cukup untuk mencari informasi dan menentukan alternatif. Kebiasaan berjalan secara otomatis, prilaku seseorang merupakan respon terhadap rutinitas  karena dilakukan berulang-ulang seringkali tanpa disadari. Pemecahan masalah dengan proses yang tidak berbelit-belit (terbatas).
Pemecahan masalah ini menyebabkan seseorang tidak peduli dengan ada tidaknya informasi dengan menggunakan criteria yang kurang lebih sudah terbentuk, untuk mengevaluasi kategori produk dan mereknya. Tidak mengevaluasi setiap atribut dan fitur produk dalam memilih mana yang sesuai dengan kebutuhannya.
Pemecahan masalah yang dilakukan dengan upaya yang lebih berhati-hati dan penuh pertimbangan (pemecahan masalah yang intensif).
Di tingkat ini konsumen memerlukan informasi yang relative lengkap untuk membentuk criteria evaluasi dari kriteria yang baku. Prosesnya lebih rumit dan panjang mengikuti proses tradisional. Mulai dari sadar akan kebutuhan, motivasi untuk memenuhi kebutuhan, mencari informasi, mengembangkan alternative, memilih satu dari berbagai alternatif dan memutuskan untuk membeli. Terutama menyangkut produk yang gampang terlihat oang lain dan sangat mempengaruhi citra diri sosial seseorang (significant others; orang lain yang signifikan bagi kehidupan seseorang, terutama citra dirinya).

C. Analiis Pengambilan Keputusan oleh Konsumen
Ada empat sudut pandang dalam menganalisis pengambilan keputusan konsumen :
Sudut Pandang Ekonomis
Konsumen sebagai orang yang membuat keputusan secara rasional, yang mengetahui semua alternative produk yang tersedia dan harus mampu membuat peringkat dari setiap alternative yang ditentukan dipertimbangkan dari kegunaan dan kerugiannya serta harus dapat mengidentifikasikan satu alternative yang terbaik, disebut economic man. Tidak reatistis karena;
i.Manusia memiliki keterbatasan kemampuan, kebiasaan dan gerak.
Contoh; orang yang tidak terampil berkomunikasi akan malas bertanya.
ii. Manusia dibatasi oleh nilai-nilai dan tujuan.
Contoh; seorang perempuan yang ingin menghangatkan badan tidak harus pergi ke kota untuk membeli ronde, cukup dengan membuat kopi panas untuk memenuhi tujuannya.
iii. Manusia dibatasi oleh pengetahuan yang mereka miliki.
Tidak semua informasi mengenai produk bisa mereka pahami, kriteria evaluasi yang ingin mereka bentuk pun tidak akan setepat economic man. Konsumen tidak membuat keputusan yang rasional, tetapi keputusan yang memuaskan adalah keputusan yang cukup baik.

Sudut Pandang Pasif
Sudut pandang ini berlawanan dengan sudut pandang ekonomis, konsumen pada dasarnya pasrah pada kepentingan sendiri dan menerima secara pasif usaha-usaha promosi dari para pemasar. Konsumen dianggap sebagai pembeli yang impulsive dan irasional.
Kelemahannya adalah pandangan ini tidak mempertimbangkan kenyataan bahwa konsumen memainkan peranan penting dalam setiap pembelian yang dilakukan, baik dalam mencari informasi tentang berbagai alternative produk, maupun dalam menyeleksi produk yang dianggap akan memberikan kepuasan.
Sudut Pandang Kognitif
Konsumen sebagai cognitive man atau sebagai problem solver. Kosumen merupakan pengolah informasi yang selalu mencari dan mengevaluasi informasi tentang produk dan gerai. Pengolah informasi selalu berujung pada pembentukan pilihan, terjadi inisiatif untuk membeli atau menolak produk. Cognitive man berdiri di antara economic man dan passive man, seringkali cognitive man punya pola respon terhadap informasi yang berlebihan dan seringkali mengambil jalan pintas, untuk memenuhi pengambilan keputusannya (heuristic) pada keputusan yang memuaskan.
Sudut Pandang Emosional
Menekankan emosi sebagai pendorong utama, sehingga konsumen membeli suatu produk. Favoritisme buktinya seseorang berusaha mendapatkan produk favoritnya, apapun yang terjadi. Benda-benda yang menimbulkan kenangan juga dibeli berdasarkan emosi.
anggapan emotional man itu tidak rasional adalah tidak benar. Mendapatkan produk yang membuat perasaannya lebih baik merupakan keputusan yang rasional.

D. Model Sederhana untuk menggambarkan pengambilan keputusan konsumen.
Pengaruh Eksternal, Usaha-usaha pemasaran pemasaran, Lingkungan social budaya: keluarga, sumber informal, sumber non komersial, kelas sosial, budaya dan sub budaya
Pengambilan Keputusan Pada Konsumen
  • Sadar akan kebutuhan
  • Mencari sebelum membeli
  •  Mengevaluasi alternatif
  • Motivasi
  •  Persepsi
  •  Pembelajaran
  • Kepribadian
  • Sikap
Perilaku Setelah Keputusan Pembelian:
  •  Percobaan
  • Pembelian ulang
Aspek-aspek pemilihan keputusan :
  • ·         Produk yang murah - Produk yang lebih mahal
  • ·         Pembelian yang sering - Pembelian yang jarang
  • ·         Keterlibatan rendah - Keterlibatan tinggi
  • ·         Kelas produk dan merek kurang terkenal- Kelas produk dan merek terkenal
  • ·         Pembelian dengan pertimbangan dan Pembelian dengan pertimbangan
  • ·         Pencarian yang Kurang Matang dan Pencarian Intensif.

·